Singkong Anjlok, Warga Bengkulu Jaya Tanam Jagung

[responsivevoice_button voice=”Indonesian Female” buttontext=”Berita Suara”]

Gunung Labuhan RWK-Menyikapi anjloknya harga singkong yang selalu dikeluhkan petani,salah seorang warga Bengkulu Jaya memberikan salah satu solusi beralih tanam,yakni menanam jagung yang harganya kian meningkat.

Endang Kusno menyatakan lebih baik petani singkong mencoba menanam jagung yang setidaknya bisa meningkatkan kwalitas prekonomian masyarakat.

“Daripada ribut masalah harga singkong anjlok, lebih baik petani singkong mencoba beralih tanam. Menanam jagung di lahan yang biasa ditanami singkong. Hasilnya lebih menguntungkan dibanding menanam singkong. Waktu panennya juga pendek 3 bulan sudah bisa dipanen”katanya,Senin(22/03).

Baca Juga  Hi. Hermansyah, Radar Way Kanan DAPIL 3 Diharapkan Bisa Bersinergi Dengan Pemerintahan Setempat

Masih kata Endang memanan jagung sudah dilakukannya beberapa tahun belakangan ini meskipun harganya pernah anjlok tapi tidak membuatnya putus asa.

“Saya sudah coba tanam di lahan 1 hektare dengan luas tanam full 1 hektare. Modalnya juga nggak cukup besar tapi hasilnya memuaskan,jangan pernah putus asa dengan usaha yang kita geluti apalagi dimasa pandemi ini”ujarnya.

Baca Juga  Sekda Saipul Pimpin Rapat Permasalahan Pilkakam Bukit Batu

Jenis jagung yang ditanam, kata Endang yaitu,NK 212 Jumbo “Varietas jagung yang ditanam NK 212. Bisa ditanam di lahan kering. Sebelum ditanam di lahan yang luas, saya mencoba menanam jagung di pekarangan dekat rumah. Pupuk dan obat dari bahan organik maupun non organik”ungkapnya.

Lebih lanjut,Endang mengatakan biaya menanam tidak terlalu banyak. “Biaya menanam jagung NK 212 sekitar Rp3 jutaan per hektare. Hasilnya bisa 6 ton,dengan harga saat ini mencapai Rp. 3.000 Jelas lebih menguntungkan dibanding menanam singkong”imbuhnya.

Baca Juga  Sebagai Wujud Kebersamaan, Kakam Gunung Pakuwon Pimpin Langsung Gotong Royong

Lebih jauh dirinya mengajak petani bisa menerapkan apa yang telah dilakukannya agar perekonomian masyarakat bisa pulih kembali.

“Cobalah lakukan apa yang saya lakukan di ladang masing-masing. Jangan bergantung menanam singkong. Hukum pasar berlaku. Jika barang berlebih di pasaran, harga pasti anjlok. Pengusaha singkong tidak mungkin ditekan menaikkan harga. Apalagi impor tapioka sekarang ini masih terus berjalan”tegasnya.RWK/Kadarsyah