’’Jadi kalau soal perizinan tentu tidak ada masalah,” paparnya.
Apakah terkait dengan adanya konflik kepemilikan sebagian tanah yang saat ini masih dipersoalkan Salim Group?
’’Ya. Itu ada kaitannya. Tapi bagaimana rentetan ceritanya memang membutuhkan penjelasan lebih detail,” kata sumber Radar Lampung ini yang mengaku banyak mengetahui soal apa yang terjadi pada perusahaan Sugar Group yang di bawah bendera Garuda Panca Artha.
Hal lain yang juga sering mengemuka adalah soal luasan lahan yang dikuasai Sugar Group. Sebab, jumlah lahan yang dikuasai Sugar Group melebihi luas hak guna usahanya.
Bahkan, luas kelebihan lahan yang menurut sejumlah pihak dan warga sekitar itu mencapai puluhan ribu hektare.
Masalahnya desakan agar pihak BPN melakukan ukur ulang itu tidak juga digubris.
Anggota DPR RI asal Lampung, Riswan Tony, juga pernah mempertanyakan soal luasan lahan Sugar Group itu pada acara dengar pendapat dengan Badan Pertanahan Nasional. Namun, sejauh ini belum juga ada tindak lanjutnya.
’Perlu dilakukan ukur ulang atas lahan yang dikuasai Sugar Group, sehingga negara tidak dirugikan,” ujar Riswan Tony yang berasal dari Partai Golkar itu.
Nah, mengapa BPN belum juga mau melakukan ukur ulang?
Itulah perlu adanya desakan yang lebih serius agar BPN bisa memenuhi harapan publik tersebut.
Sejauh ini, Radar Lampung belum berhasil mendapatkan penjelasan dari Ny. Lee. Namun, beberapa orang terdekatnya mengakui adanya cawe-cawe itu.
’’Kalau soal besarannya, saya tidak tahu angka pastinya berapa. Tapi kalau ratusan miliar rupiah, iya,” ujar sumber ini.
Artikel ini juga Telah tayang di Radarlampung dengan judul “Mengungkap Motif Utama Cawe-cawe Petinggi Sugar Group Dalam Pilkada Lampung” link https://radarlampung.disway.id/read/672115/mengungkap-motif-utama-cawe-cawe-petinggi-sugar-group-dalam-pilkada-lampung
