oleh

Way Kanan Jadi Episentrum Baru Industri Gula Lampung, Terima Alokasi Tebu Terbesar dari APBN

-Umum-36 Dilihat

BLAMBANGAN UMPU (RWK) – Ambisi Provinsi Lampung menjadi “raja gula” nasional membuka peluang besar bagi Kabupaten Way Kanan. Dari target pengembangan tebu seluas 13 ribu hektare pada 2026, alokasi terbesar justru mengalir ke Way Kanan sehingga kabupaten ini diproyeksikan menjadi episentrum baru industri gula rakyat di Lampung.

Program tersebut didanai pemerintah pusat melalui APBN senilai Rp187,25 miliar. Berdasarkan data Dinas Perkebunan Provinsi Lampung, sebelumnya Way Kanan memperoleh alokasi 6.200 hektare program peremajaan tebu (bongkar ratoon), tertinggi dibanding kabupaten lain penerima program.

Alokasi besar itu menempatkan Way Kanan sebagai daerah dengan hamparan tebu rakyat terluas di provinsi tersebut. Kecamatan-kecamatan sentra tebu seperti Negara Batin, Pakuan Ratu, Negeri Besar, dan Bahuga diperkirakan menjadi wilayah yang paling merasakan dampak program.

“Kabupaten Way Kanan memiliki lahan tebu rakyat paling banyak sehingga menjadi fokus utama pengembangan,” kata Kepala Dinas Perkebunan Lampung, Desti Arisandi, terkait program swasembada gula 2026.

Kepala Dinas Perkebunan Way Kanan B. Ishak, menegaskan bahwa program tersebut sepenuhnya merupakan program pemerintah pusat. Dari alokasi 6.200 hektare, sekitar 5.800 hektare telah masuk dalam CPCL (Calon Petani dan Calon Lokasi) dan dinyatakan siap dilaksanakan.

Menurut Ishak, rencana perluasan tambahan 1.000 hektare belum dapat direalisasikan tahun ini karena faktor kondisi alam dan cuaca.

“Petani belum ada yang menyanggupi perluasan tersebut. Jika tidak ada perubahan dan kendala, insya Allah akan dilaksanakan pada 2027,” ujarnya.

Ia menambahkan, seluruh pendanaan berasal dari APBN dan proses pengadaan dilakukan pemerintah pusat, sedangkan Dinas Perkebunan Way Kanan berperan dalam pendampingan teknis para petani penerima bantuan.

Program bongkar ratoon bertujuan mengganti tanaman tebu tua yang produktivitasnya menurun dengan bibit unggul baru. Pemerintah pusat tidak hanya menyalurkan benih, tetapi juga menyiapkan dukungan biaya pengolahan lahan agar produktivitas dan rendemen gula meningkat.

Jika target tercapai, dampak ekonominya diperkirakan meluas hingga sektor angkutan tebu, tenaga kerja kebun, jasa alat pertanian, dan perdagangan lokal. Pelaku usaha kecil di sekitar sentra tebu berharap musim tanam baru menjadi pemicu perputaran ekonomi desa.

Program ini hadir setelah petani tebu Way Kanan sempat menghadapi ketidakpastian panen di kawasan Register 44. Pemerintah pusat sebelumnya turun tangan untuk memastikan sekitar 5.000 hektare lahan tebu petani tetap dapat dipanen, sehingga mata pencaharian ribuan keluarga tidak terganggu.

Masuknya Way Kanan sebagai penerima alokasi terbesar program swasembada gula dipandang sebagai sinyal kuat bahwa komoditas tebu tetap menjadi sektor strategis daerah.

Pengamat perkebunan menilai keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh luas tanam, tetapi juga oleh kepastian kemitraan dengan pabrik gula, harga tebu yang menguntungkan petani, serta perbaikan infrastruktur jalan produksi. Bila faktor-faktor tersebut terpenuhi, Way Kanan berpeluang naik kelas dari sekadar daerah penghasil tebu menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis gula di Lampung.

Di tengah target swasembada gula nasional 2027, Way Kanan kini berada di panggung utama. Ribuan hektare tebu baru segera ditanam, dan bersama batang-batang tebu itu tumbuh pula harapan baru bagi ekonomi pedesaan Bumi Ramik Ragom. (RWK/AT)