Radar Way Kanan.Com
NEGARA BATIN – Gelombang massa yang sangat besar diprediksi akan memadati area Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung besok pagi Kamis 9 April 2026. Sebanyak 5.000 hingga 6.000 orang yang tergabung dalam wadah Petani Tebu Mandiri, gabungan dari wilayah Sumatera Selatan (Sumsel) dan Kabupaten Way Kanan, Lampung, bersiap menyuarakan aspirasi mereka melalui aksi Orasi Damai.
Aksi damai ini merupakan bentuk tuntutan dan penyampaian aspirasi terkait nasib para petani dan buruh tebu yang selama ini menjadi sorotan publik, khususnya terkait masalah hukum yang melibatkan perusahaa PT. PSMI di wilayah tersebut. Massa bertekad menyampaikan suara hati nurani rakyat dengan cara yang demokratis, tertib, dan penuh kedamaian.
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari Ketua Aliansi Petani Tebu, Sartono, persiapan aksi ini sudah berjalan matang dan terorganisir dengan sangat baik.
Dijelaskannya, gelombang massa terbesar yang berasal dari Sumatera Selatan dan dijadwalkan akan mulai bergerak menuju Lampung tepat pukul 00.00 WIB dini hari nanti. Mereka akan melakukan perjalanan jauh untuk bergabung dengan rekan-rekan petani dari Way Kanan.
“Titik kumpul utama dan pusat komando sementara ditetapkan di Lapangan Purwa Agung, Kecamatan Negara Batin. Di lokasi inilah seluruh massa dari berbagai penjuru akan berkumpul untuk melakukan brifing teknis, pembagian kelompok, serta persiapan materi sebelum melanjutkan perjalanan menuju titik aksi.
Setelah seluruh persiapan matang dan doa bersama dipanjatkan, tepat pukul 03.00 WIB waktu subuh, iring-iringan ribuan petani dijadwalkan akan bergerak serentak meninggalkan titik kumpul di Negara Batin menuju kantor Kejati Lampung.
Pemilihan waktu subuh ini bertujuan agar massa dapat sampai di lokasi tujuan dengan aman, lancar, dan memiliki waktu yang cukup untuk menyampaikan orasi serta tuntutan mereka kepada pihak berwenang sebelum aktivitas perkantoran dimulai.
Kehadiran ribuan petani yang merupakan gabungan dari dua provinsi besar ini menunjukkan betapa kuatnya solidaritas dan keseriusan mereka dalam memperjuangkan nasib. Mereka datang bukan untuk menciptakan kericuhan, melainkan untuk memohon keadilan, kepastian hukum, dan perlindungan terhadap mata pencaharian yang sudah puluhan tahun mereka geluti.
“Kami datang dengan damai, membawa amanat ribuan keluarga yang menggantungkan hidup di sektor perkebunan. Kami berharap suara kami didengar dan ada solusi nyata yang menguntungkan semua pihak,” tegas Sartono (RWK/JONI)






