oleh

Petani Kampung Sri Mulyo Resah Pupuk Subdidi hilang dan Kios Penyalur Misterius

-Umum-307 Dilihat

Radar WayKanan
Negara Batin, -Suasana di kalangan kelompok tani Kampung Srimulyo, Kecamatan Negara Batin, semakin memanas seiring dengan kelangkaan pupuk yang menghambat aktivitas pertanian mereka. Berbagai kelompok tani yang ada di kampung tersebut mengaku merasa resah dan khawatir, mengingat musim tanam yang sudah memasuki tahap krusial namun pupuk yang menjadi kebutuhan utama untuk meningkatkan produktivitas tanaman masih tidak kunjung tersedia.

Sejumlah petani yang tidak ingin disebutkan namanya mengungkapkan bahwa kondisi ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, di mana pupuk subsidi selalu tersedia tepat waktu melalui kios penyaluran yang telah ditetapkan. Namun pada musim tanam kali ini, mereka bahkan tidak mengetahui kapan pupuk akan datang, atau bahkan apakah kios yang seharusnya menjadi penyalur pupuk subsidi di kampung mereka benar-benar beroperasi sesuai aturan.

“Kita sudah menunggu lama, padahal tetangga di kampung lain sudah selesai menyemprot dan memberikan pupuk pada tanamannya. Kalau terus begini, takut hasil panen kita akan menurun drastis,” ujar salah satu perwakilan kelompok tani Kampung Srimulyo.

Ketidakjelasan mengenai kios pupuk di kampung tersebut semakin menambah kekhawatiran para petani. Menurut informasi yang kami kumpulkan, kios yang seharusnya menjadi penyalur pupuk subsidi langsung kepada petani terdaftar melalui sistem e-RDKK (Rekening Dana Kelompok Tani Elektronik) dengan harga sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) belum pernah diumumkan identitasnya secara jelas kepada masyarakat. Sampai hari ini, tidak ada satu pun petani di Kampung Srimulyo yang mengetahui nama kios tersebut maupun siapa pemiliknya yang sah menurut peraturan.

Kepala Kampung Srimulyo, Amrullah AB, yang dihubungi melalui sambungan WhatsApp, mengakui dan membenarkan adanya kelangkaan pupuk subsidi di wilayahnya. Menurutnya, pihaknya juga telah mencoba mencari informasi mengenai kios pupuk yang seharusnya beroperasi di kampung tersebut, namun hingga saat ini belum mendapatkan klarifikasi yang memuaskan dari pihak terkait.

“Benar, kami juga menerima banyak keluhan dari para petani. Seharusnya kios pupuk sudah berjalan dan menyediakan pupuk subsidi sesuai dengan daftar petani yang terdaftar melalui e-RDKK, tapi sampai sekarang kita juga belum tahu siapa pemilik kiosnya dan mengapa pupuk belum sampai,” jelas Amrullah AB dalam pesan WhatsApp-nya

Sementara itu, informasi dari beberapa kampung lain di sekitar Kecamatan Negara Batin menunjukkan bahwa proses pendistribusian pupuk subsidi sudah berjalan lancar dan sebagian besar petani telah menyelesaikan tahap pemupukan awal pada tanaman mereka. Kondisi ini semakin membuat para petani di Kampung Srimulyo merasa tidak adil dan meminta agar masalah ini segera mendapatkan perhatian serius dari pemerintah daerah.

Dalam menghadapi kondisi yang mengkhawatirkan ini, berbagai elemen masyarakat Kampung Srimulyo, termasuk kelompok tani dan pihak kepala kampung, bersama-sama mengajukan permintaan kepada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan setempat untuk segera melakukan pengecekan mendalam serta pengawasan yang ketat terhadap kios pupuk yang berada di Kampung Srimulyo.

Permintaan tersebut tidak hanya bertujuan untuk mengetahui identitas yang sebenarnya dari kios pupuk tersebut, namun juga untuk memastikan bahwa distribusi pupuk subsidi berjalan sesuai dengan peraturan yang berlaku, sehingga para petani yang telah terdaftar secara sah dapat menikmati hak mereka untuk memperoleh pupuk dengan harga terjangkau. Selain itu, juga diharapkan adanya klarifikasi mengenai penyebab kelangkaan pupuk subsidi di kampung tersebut dan langkah-langkah yang akan diambil untuk mengatasi masalah ini agar tidak mengganggu proses pertanian yang sedang berjalan.

“Kita berharap Dinas terkait bisa segera turun tangan, melakukan pemeriksaan, dan memberikan kepastian kepada kita para petani. Tanpa pupuk yang cukup dan tepat waktu, usaha kita sepanjang tahun bisa jadi sia-sia,” pungkas perwakilan kelompok tani tersebut. RWK/JONI