LESTARIKAN BUDAYA INDARSYAH GELAR BUGAWI

Bahuga (RWK),- Kepala Kampung Mesir Ilir Kecamatan Bahuga Kabupaten Way Kanan,  Indarsyah,  menggelar acara adat begawi cakak pepapun, yaitu proses pengambilan Gelar Sutan dalam prosesi adat Lampung.

Begawi atau yang kerap disebut dengan istilah lengkap Begawi Cakak Pepadun merupakan upacara adat masyarakat Lampung untuk memberikan gelar adat kepada seseorang. Adapun masyarakat etnis atau suku bangsa Lampung yang melaksanakan begawi adalah yang berasal dari kelompok adat Lampung Pepadun.

 Istilah Pepadun sendiri berasal dari nama salah satu perangkat yang digunakan dalam begawi, yaitu singgasana dari kayu yang menyimbolkan suatu status sosial dalam keluarga. Di singgasana inilah gelar adat diberikan setelah orang yang ingin mendapat kenaikan status dari gelar tersebut diharuskan memberikan uang Yang disebut Penumbukan dan menyembelih kerbau dengan jumlah tertentu (biasanya 1 kerbau atau lebih dan maharnya puluhan juta hingga Ratusan juta ), begawi dapat diartikan sebagai “suatu pekerjaan” atau  “membuat gawi”.

Baca Juga  PKK Bumi Rejo Galang Dana Untuk Korban Bencana

Bagi masyarakat Lampung Pepadun, begawi cakak pepadun sifatnya wajib dilakukan oleh seseorang sebelum menyandang hak untuk menduduki posisi penyimbang yang dilakukan oleh lembaga perwatin adat dengan hasil mupakat Para Tokoh Tokoh Adat (Raja Lima kebuayan).

Ismail Adok Ndika Bangsawan dan Edward Adokna Ratu Pesirah selaku Penglaku atau yang disebut dalam bahasa Indonesia sebagai Ketua Panitia Acara menjelaskan, segala susunan acara dalam prosesi pengambilan Gelar Sutan tersebut telah dilaksanakan sesuai dengan ketentuan adat.

Baca Juga  Jum'at Bersih Inisiatif Kepala Dusun Baru Pematang Kasih

“Sai begawi dirani sa sina wat ruwa pepadun,  mintar jak sidang adat, canggot agung muli meranai, canggot agung perabatin radu jeno bingi,  kebiansa puncakna pesuwa cakak pepadun. Laju di ju’i adok,” imbuhnya. Sabtu (31/10)

Lebih lanjut, Ismail Sai Adokni Ndika Bangsawan menuturkan hasil dari begawi adat tersebut dinyatakan sah dan diakui serta tidak terdapat kekurangan suatu apapun.

“Punyimbang Rp. 4.000, agak menengah Rp. 8.000, kelas tinggina lagi katakanlah punyimbang tiyuh Rp. 12.000, Punyimbang Margana 4 Likor Ribu (Rp 24000 red ), Sina sai ngesahkon lom arti kata penobatanna. Akan tetapi asalna ya harus mesol kerbau 2, jeno radu wat huluna, Begawi sa diakui dilom lima kebuaian, sah radu wat sertifikat. Radu sikam tanyako jama sai hadir jawab tiyan makdok kurang lagi, Alhamdulillah. Jadi dipa pok tiyan ja midor, diterima jadi punyimbang tiyuh atau jempana pepadun,” pungkasnya dalam bahasa Lampung Way Kanan, sesuai dengan titih tatah adat Way Kanan, dalam pelaksanaan acara adat memang harus menggunakan bahasa Lampung Way Kanan. RWKI /DIMA