oleh

Way Kanan Siaga Hadapi Ancaman Kekeringan dan Karhutla, Forkopimda Gelar Rakor Kesiapsiagaan

-Umum-51 Dilihat

BLAMBANGAN UMPU (RWK) – Pemerintah Kabupaten Way Kanan bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) memperkuat langkah antisipasi menghadapi potensi kekeringan dan kebakaran hutan serta lahan (karhutla) pada musim kemarau 2026. Upaya tersebut dibahas dalam Rapat Koordinasi Kesiapsiagaan yang digelar di Ruang Buway Pemuka Pengiran Tuha, Rabu (22/7).

Mewakili Bupati Way Kanan Ayu Asalasiyah, Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat, Ixuan Ahmad, menyampaikan apresiasi kepada seluruh unsur yang hadir dalam rapat tersebut. Menurutnya, sinergi lintas sektor menjadi kunci dalam mencegah sekaligus meminimalkan dampak bencana.

“Semoga rapat ini menghasilkan langkah-langkah konkret dan memperkuat kerja sama seluruh pihak dalam menghadapi ancaman kekeringan maupun kebakaran hutan,” ujarnya.

Ia menegaskan, kebakaran hutan tidak hanya berdampak pada kerusakan lingkungan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, hingga berbagai sektor pembangunan lainnya. Karena itu, upaya pencegahan harus menjadi prioritas bersama.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Way Kanan, Sufrianto, S.A.N., menjelaskan bahwa berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kabupaten Way Kanan telah memasuki periode waspada musim kemarau sejak Juli 2026.

“Dua ancaman utama yang perlu diantisipasi adalah kekeringan dan kebakaran hutan. Kabupaten Way Kanan termasuk wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla, sementara hampir seluruh kecamatan juga berpotensi mengalami kekeringan,” katanya.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, BPBD telah menyiapkan sejumlah langkah mitigasi, mulai dari deteksi dini, pemetaan wilayah rawan, pemantauan titik panas (hotspot), hingga pendataan sumur bor yang tersedia di setiap kampung.

Selain itu, pemerintah juga akan mengoptimalkan infrastruktur pengelolaan air, menyiapkan cadangan logistik dan mobil tangki air, mendorong penyesuaian pola tanam, serta memperkuat program pembangunan sumur bor desa sebagai langkah menghadapi potensi krisis air bersih.

Melalui rapat koordinasi ini, pemerintah berharap seluruh peserta dapat meneruskan informasi kesiapsiagaan kepada masyarakat di wilayah masing-masing sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan secara lebih luas dan efektif sebelum musim kemarau mencapai puncaknya. (RWK/AT)