Oleh: Nazwar, S. Fil. I., M. Phil * *Penulis Lepas Lintas Jogja Sumatera
Ilmu mungkin tidak mengubah kenyataan secara total dalam arti mengikuti keinginan manusia seluruhnya terlebih sekadar hawa nafsu. Dengan ilmu dapat pencerahan yang tentu sangat bermanfaat yang dengannya diterangi azam atau keinginan besar yang ada dalam diri manusia. Bukan tidak mungkin dengannya akan menjadikan suatu kondisi lebih baik dari sekedar tanpa pencerahan.
Terhadap apa yang merupakan ketetapan Tuhan dalam kehidupan dunia dan akhirat. Dengan ilmu banyak hal terjawab bahkan tanpa diawali pertanyaan, atau terhadap hal yang membingungkan dapat saja terurai dengan ilmu, termasuk berpikir seseorang baik dalam posisi berdiri atau dalam keadaan duduk dengan pengakuan akan kebesaran Allah dalam ciptaan langit dan bumi yang merupakan karunia Allah yang tidak sia-sia.
“Kemudian Allah menghinakan mereka pada hari Kiamat, dan berfirman: “di manakah sekutu-sekutu-Ku itu yang (karena membelanya) kamu selalu memusuhi mereka (nabi-nabi dan orang-orang beriman?)” Orang yang diberi ilmu berkata: “sesungguhnya kehinaan dan azab pada hari ini ditimpakan kepada orang-orang yang kafir” (an-Nahl: 27).
Kehinaan tidak semata mereka yang tidak diberi ilmu, namun mereka yang menzalimi diri sendiri dengan diberi ilmu namun mengambil sikap zalim baik terhadap diri sendiri maupun bukan dirinya sendiri yang menjadi sasaran dan merasakan akibat perbuatan zalim mereka. Mereka mengambil jalan menolak kebenaran yang terang benderang. Maka sudah barang tentu tidak untuk diikuti sembari senantiasa memohon dan memperteguh keimanan juga dengan amal-amal salih.
Kembali kepada peran ilmu, dengan izin dan rahmat Allah, membawa penerangan juga terhadap kesalahan masa lalu dan untuk memperbaikinya serta meniti harapan di masa depan yang lebih baik. Sebab segala kebaikan di sisi Allah, bukan pada harta, anak-anak bahkan banyaknya amal namun semata-mata karena Allah saja, maka berbahagialah mereka yang sabar baik dalam kemelaratan harta yang inshaaAllah dapat meringankan hisabnya kelak di hari kiamat.
Termasuk terhadap ilmu, kebaikan padanya hanya dari Allah saja. Oleh sebab itu, selain mengharap ilmu yang bermanfaat dan dijauhkan dari ilmu yang tidak bermanfaat, yang perlu diketahui bahwa ilmu Allah, sebagaimana cahaya tidak dipancarkan dengan maksiat. Sebagaimana dikatakan: “al-ilmu nuurun wa Nurullahi laa yuhda bil’aashi” artinya “ilmu itu cahaya dan cahaya Allah tidak dipancarkan yang dengannya kemaksiatan.” “Allahu a’lam!”






