Kamar sewa itu rupanya bagian dari perencanaan. Yang menyewa Kwong Kau. Baru seminggu sebelumnya. Kamar kosongan. Tanpa meja, tanpa kursi, tanpa apa pun. Pintu, dinding dan jendelanya ditutupi terpal. Agar kalau ada percikan darah, percikan itu menempel di terpal. Tidak di dinding atau jendela. Lalu terpalnya, kelak, bisa dilepas dan dibakar.
Dari segi itu Kwong Kau sangat hati-hati. Ketika kamar sewa dikembalikan tidak akan ada petunjuk apa pun.
Polisi menggerebek unit yang disewa itu. Ada kulkas di situ. Ada pencacah daging. Ada gergaji mesin. Ada gergaji tangan. Ada mesin pengiris daging. Ada sarung tangan.
Kulkas itu dibuka. Ada dua kaki Choi. Lalu ada pot yang biasa untuk membuat sop. Ketika dibuka isinya remukan kepala Choi.
Belum ditemukan di mana bagian badan dan tangan Choi. 100 polisi dikerahkan. Termasuk para penyelam. Dikerahkan juga ekskavator. Tempat timbunan sampah diaduk-aduk. Ada pengakuan beberapa karung dibuang di situ. Termasuk pakaian Choi.
Melihat peralatan yang ada di kamar sewaan itu kemungkinan besar badan Choi akan dihancurkan selembut mungkin. Agar tidak tertinggal sedikit pun jejak. Untuk itu perlu waktu. Tapi waktunya tidak cukup. Keburu ditangkap polisi.
Anthony dan mantan mertua ditangkap lebih dulu. Lalu mama mertua. Alex masih belum ditemukan. Mantan suami ini menghilang. Polisi membuat sayembara: bagi yang menemukannya mendapat hadiah lebih Rp 100 juta.
Akhirnya polisi menemukan jejak Alex. Ia berada di pinggir laut Tung Chung. Di pulau Lantau. Tidak jauh dari bandara Hong Kong. Ia masih di pinggir laut menunggu speed boat yang disewa. Dari Kowloon ke pinggir laut Tung Chung ini memakan waktu 30 menit naik taksi.
Dulu pinggir laut Tung Chung sepi dan sunyi. Sejak bandara pindah ke situ jadi ramai. Banyak sekali apartemen baru dibangun. Ratusan apartemen tinggi seperti berlomba menuding langit.
Bahkan dibangun pula terminal bus yang sangat besar di situ. Itulah terminal bus untuk tujuan Macau. Lewat tol atas laut terpanjang di dunia. Siapa pun yang ingin ke Macau bisa naik bus dari pulau Hong Kong atau Kowloon. Lalu diantar ke terminal bus di pulau Lantau dekat Tung Chung. Dari sini naik bus lagi menuju Macau. Lewat tol di atas laut.
Di situlah Alex ditangkap. Mungkin ia akan ke Macau naik speed boat sewaan. Atau akan ke Zuhai. Saat itu Alex membawa uang tunai 500.000 dolar HK, atau sekitar Rp 10 miliar. Ia juga membawa beberapa jam tangan mahal, senilai sekitar 4 juta dolar HK.
Polisi akhirnya juga menangkap pengemudi speed boat sewaan itu. Ia hanya mengemudikan. Speed boat nya sendiri milik perusahaan. Nama pengemudi itu Lin. Ia akan dibayar hampir Rp 2 miliar untuk pelarian itu.
Kini empat anak Choi (2 dari Alex, 2 dari suami sekarang) jadi korban. Ibu Choi akan mengasuh anak-anak itu. Empat orang masih ditahan. Tanpa bisa ada penjaminan. Hanya pacar Kwong Kau yang ditahan luar: ia terlibat karena Alex sempat sembunyi di rumahnya. Rupanya sang anak tahu bahwa ayahnya punya pacar itu.
Drama ini akan cepat berlalu. Motifnya sudah ketahuan: soal kepemilikan rumah. Bahwa Choi dimulitasi juga sudah jelas: ingin menghilangkan jejak sehilang-hilangnya. Sampai diiris-iris sekecil-kecilnya, selembut-lembutnya.
Tidak ada wanita, tidak ada takhta. Hanya harta. Itu pun hanya sebuah rumah dan sejumlah jam tangan mahal. Total, nilainya, sekitar Rp 150 miliar.
Saya pun menghubungi sahabat Disway di Hong Kong. Seorang pengacara. Saya bertanya: siapa kelak yang akan memiliki rumah 4 kamar itu?
Kalau betul Choi bisa membuktikan bahwa uang pembelian itu dari dirinyi, suami yang sekarang bisa gugat ke pengadilan. Minta nama kepemilikan rumah itu diubah. Dari mantan mertua Choi ke dirinya. Lalu hukum waris Hong Kong akan berlaku: 50 persen milik suami yang sekarang, 50 persen milik 4 anak Choi.
Tentu tergantung juga apakah Choi meninggalkan wasiat tertulis sebelum meninggal. Kalau ada wasiat, wasiat itulah yang harus dilaksanakan. Bagaimana kalau sebelum dibunuh Choi dipaksa bikin wasiat? Tentu ini kriminal tambahan bagi Kwong Kau.
Bagaimana kalau akhirnya ketahuan rumah itu di atas namakan Kwong untuk menghindari pajak?
Mudah. Setelah suami Choi berhasil mendapatkan rumah tersebut ia harus membayar sejumlah pajak yang dihindarkan. Ditambah denda.
Kebetulan di sana taat pajak sangat tinggi. Biar pun petugas pajaknya belum ada yang punya Rubicon. (*)






