Radar Waykanan.Com
Negara Batin, -Langit di atas Kecamatan Negara Batin, Kabupaten Way Kanan, seakan ikut mendung menyelimuti hati masyarakat. Suasana penuh ketidakpastian kini melanda tatanan sosial dan ekonomi wilayah tersebut. Ratusan buruh dan petani tebu yang selama ini menggantungkan seluruh hidupnya dari hasil keringat di sektor perkebunan, kini harus menanggung beban berat yang tak terkira.
Semua ini bermula dari masalah hukum yang melibatkan perusahaan PT PSMI. Situasi yang terjadi saat ini bukan lagi sekadar persoalan administrasi atau sengketa lahan biasa, melainkan telah berubah menjadi ancaman nyata bagi keberlangsungan hidup dan masa depan ribuan keluarga yang ada di sana.
Menyikapi kondisi kritis yang kian memprihatinkan ini, Asosiasi Kepala Desa (APDESI) se-Kecamatan Negara Batin tidak bisa lagi berdiam diri. Mereka mengambil langkah tegas dan lantang menyuarakan keprihatinan mendalam. Melalui aspirasi yang disampaikan, mereka meminta agar pihak PT PSMI dapat segera memberikan kepastian hukum dan kejelasan nasib bagi para buruh serta petani tebu
Kerisauan yang dirasakan oleh para buruh dan petani tebu dikabarkan semakin hari semakin parah dan hampir tak tertahankan. Ketidakpastian hukum yang melingkupi nasib mereka membuat para pekerja dan keluarga besarnya hidup dalam bayang-bayang ketakutan, kecemasan yang berkepanjangan.
Hal ini tidak hanya mengganggu ketenangan jiwa, tetapi secara nyata telah mengancam roda ekonomi keluarga. Pasalnya, hampir 70% mata pencaharian warga di wilayah tersebut bergantung sepenuhnya pada hasil kerja keras mereka dilahan perkebunan tebu. Jika aktivitas ini terhenti atau terganggu karena masalah yang tak jelas ujungnya, maka sumber kehidupan mereka pun ikut putus begitu saja.
Sebagai garda terdepan yang memahami denyut nadi masyarakat di tingkat akar rumput, para Kepala Kampung merasa terpanggil hati nuraninya. Mereka melihat langsung penderitaan yang dihadapi warganya, mulai dari terhambatnya aktivitas bekerja sehari-hari, hingga kekhawatiran yang sangat mendalam.
Melihat kondisi yang semakin pelik, Asosiasi Kepala Desa pun membentangkan harapan besar kepada penegak hukum. Mereka menyampaikan permohonan yang tulus namun tegas kepada Kejaksaan Tinggi (Kejati) Lampung.
Mereka memohon agar pihak kejaksaan dapat memperhatikan nasib para buruh dan petani tebu ini. Sebab, mereka adalah bagian tak terpisahkan dari struktur masyarakat setempat. Selama puluhan tahun, merekalah tulang punggung yang menggerakkan roda ekonomi desa dan kecamatan melalui sektor perkebunan ini.
“Kami sangat khawatir jika masalah hukum ini dibiarkan berlarut-larut tanpa ada solusi yang jelas dan berpihak pada rakyat kecil. Ini bukan hanya sekadar masalah hukum perusahaan, tapi ini adalah soal kemanusiaan dan keberlangsungan hidup ribuan keluarga,” ungkap salah satu perwakilan kepala kampung
Mereka menegaskan bahwa persoalan yang terjadi saat ini dikhawatirkan akan semakin mempersempit ruang gerak masyarakat dalam mencari nafkah. Jika dibiarkan terus berlanjut, hal ini pasti akan berdampak buruk secara masif, menurunkan tingkat kesejahteraan, dan memicu berbagai masalah sosial baru di Kecamatan Negara Batin secara keseluruhan.
Asosiasi Kepala Desa se-Kecamatan Negara Batin memohon dengan sangat kepada Kejati Lampung. Mereka berharap kiranya dapat membuka mata dan hati nurani, serta memberikan perhatian khusus terhadap nasib buruh Tani Tebu yang kini sedang terpuruk.
Harapan besar yang digantungkan seluruh warga adalah agar Kejati Lampung kiranya bisa melihat persoalan ini tidak hanya dari sisi hukum formal semata, tetapi juga dengan kebijaksanaan dan kearifan lokal, melihat betapa beratnya penderitaan yang dialami oleh rakyat kecil yang hanya ingin mencari nafkah halal.
“Kami hanya ingin kepastian. Biarkan mereka bekerja dengan tenang, dan jangan biarkan nasib baik orang-orang yang selama ini berjasa, kini justru terancam nasibnya,” pungkasnya. (RWK/JONI)






