RADARWAYKANAN.COM – Perhelatan pemilihan Presiden, DPD, DPR RI., DPR Provinsi, dan DPRD Kabupaten / Kota baru saja usai, masyarakat yang sempat terbelah perlahan mulai saling menyapa kembali dan saling bercanda, namun hal itu tidak menghilangkan isu dibenak masing masing atas keberpihakan atau bahasa gaulnya “ Cawe cawe” yang secara masif dari tingkatan yang paling bawah hingga kepaling atas untuk memenangkan calon yang mereka usung dalam pemilu kemarin
Kalau bicara tentang politik, seringkali dianggap sebagai tema yang berat Padahal enggak ada ruginya lho jika kita memahami dan tahu tentang seluk beluk politik di negara sendiri.
Rabu Pagi yang merupakan hari Dag Dig Dug bagi para Caleg yang ikut berkompetisi di tempat tinggalku, sebagian besar, warga yang kesehariannya bekerja tanpa lelah untuk setetes Getah karetpun meliburkan diri untuk nyoblos. Tak perlu tanya satu persatu, Karena, bagi mereka yang sengaja libur sudah ada penggantinya untuk membeli kebutuhan hari itu, bahkan lebih dari yang mereka dapatkan dalam keseharian, suasana di TPS pun ramai, Ada ibu-ibu yang sedang nge-vlog.
“Saya lagi di TPS lho ayo kita milih” mungkin dikarenakan lagi tren trennya Konten creator dadakan untuk mencari tambahan cuan
Mendengar pekik ibu-ibu yang duduk di kursi antrian menyatakan dukungan kepada salah satu pasangan capres-cawapres, Melihat keramaian ini, yang separuhnya lagi mengacungkan simbol jari lawannya. Tak ada keributan setelahnya. Semuanya tertawa dan tepuk tangan. Artinya juga orang orang bangga dengan pilihannya
Di kampung-kampung, suasana riuh. Setidaknya ini terjadi di sudut-sudut Kampung dimana aku tinggal, Tak sedikit tetangga-tetangga perantauan yang balik kampung. Selain semangat mencoblos, mereka juga sekalian libur panjang. Sebab, beberapa hari sebelumnya memang libur panjang dan cuti bersama.
“ Nanggung ah Mau pulang, mau nyoblos dulu” Ucap Inem yang bekerja di Kabupaten tetangga.
Sejumlah TPS sudah siap-siap sejak sore hingga malam hari sebelum pencoblosan. Orang-orang berkumpul di depan rumah mereka. Yang diobrolin ya soal pilpres dan soal Amplop yang didapat dari caleg yang mencalonkan diri, . Berdebat soal siapa yang paling pantas dipilih dan mmasuk ke Istana. Semalam suntuk tema obrolan berkutat soal ini, ada yang mengeluh ekonomi kian susah, yang lain membanggakan pembangunan infrastruktur.
“Jakarta-lampung pakai tol sekarang, cepat. Lancar jaya, dulu bisa sampai 14 jam. Pembangunan gede-gedean ini,” kata salah satu pemuda disambut pemuda lainnya.
“Susah bos. Kerjaan sulit. Dagangan sepi. Harga-harga pada mahal,” jawab satunya lagi.
Beberapa yang lain bicara soal menyerahkan pilihannya kepada Gemoy. Yang jenis ini lebih banyak. Sebab Kampung ini kultur Nasionalisnya sangat kuat. Tetapi siapapun yang dijagokan, kesimpulannya mereka ini pemilih-pemilih yang sudah bulat. Tidak mungkin goyah.
Itu soal capres. Berbeda dengan caleg. Mereka ini acak. Tidak linear partai politiknya dengan pilihan capres. Yang dipilih, caleg atau kadernya caleg yang sering datang ke rumahnya, yang dikenal, tokoh masyarakat dan ini yang paling menentukan, tentu mereka yang bagi-bagi amplop.
“Saya dapat Lima amplop. Dari banyak kader-kader caleg. Ada yang Rp 50 ribu, ada yang Rp 100 ribu bahkan sampai Rp.250ribu. Milih yang kenal aja, yang ke rumah. Banyak yang gak kenal soalnya ya,” aku topik
Ternyata, rata-rata setiap rumah dapat lebih dari Tiga amplop. Dari caleg yang berbeda-beda dan partai yang berbeda pula. Banjir amplop ini mulai datang Tiga hari sebelum hari H. Paling ramai sehari sebelum hari H.
Suasana desa semarak. Persis Pilkakam. Kalau Pilkam, orang-orang perantauan balik kampung males,. “Mirip coblosan kepala Kampung. Tapi ini balik sendiri, inisiatif sendiri. Buat nyoblos sekalian libur,” begitu kata Rianto yang bekerja sebagai supir di sebuah pabrik minuman yang berada di Kabupaten Lampung Tengah
Ada 8 TPS di Kampungku ini. Tak ada yang istimewa, bentuknya sederhana. Cuman beratap terpal dan ada tenda seperti pernikahan, berpagar bambu. Ada pintu masuk, kursi tunggu pemilih, meja untuk menyerahkan undangan yang dijaga dua petugas, meja petugas yang menyerahkan kartu suara, dan sebuah meja panjang untuk menaruh lima kotak suara. Urutannya, DPRD Kabupaten, DPRD Provinsi, DPR RI, DPD dan terakhir, capres-cawapres.
Di pintu keluar, satu meja diisi dua kursi petugas, di meja tersedia tinta, untuk nyelupin jari warga yang sudah memilih. Hingga batas pencoblosan, warga silih berganti datang ke TPS ini. Linmas sibuk membantu warga yang lansia. Dua petugas kepolisian datang sebentar, lalu pergi ke TPS lainnya. Kursi tunggu penuh dari pagi. Hanya saja setelah agak siangan, yang datang sedikit. Barulah pas pukul 12:00 warga yang tak dapat undangan dan nyoblos pakai KTP dan KK, mulai berdatangan. Aturannya begitu.
Tepat pukul 13:00 pengumuman bergema. Pemungutan suara di TPS ditutup. Saksi-saksi dari pasangan capres-cawapres mulai maju, juga saksi dari setiap parpol, tanda tangan. Banyak betul dokumen yang harus ditandatangani.
Setelahnya, perhitungan suara capres cawapres berlangsung sangat ceria. Warga yang hadir, saling celetuk. Lanjutkan, mantap, sah. Begitu celetukan warga. Semua bersenda gurau. Tak ada ketegangan sama sekali.
Tepuk tangan membahana saat perhitungan capres-cawapres selesai sekitar pukul 14:30. Di TPS ini, paslon nomor urut 02 Unggul jauh dari pasangan lain
Paslon nomor urut 02 memperoleh suara 160. Nomor satu 11 suara dan pasangan nomor tiga 29 suara dari pemilih sebanyak 284 undangan.
“Menang nih Praroro,” celetuk bapak-bapak berpeci hitam sambil tertawa
Perhitungan berlanjut untuk DPRD Kabupaten, Provinsi, DPR pusat dan DPD. Namun, warga sudah tak antusias. Setelah melihat perhitungan Pilpres di TPS, orang-orang kembali ke rumahnya masing-masing. Nonton quick count di televisi. Usai ashar, pemenang versi quick count sudah kelihatan. Kebanyakan lembaga polling menyatakan, Pilpres 2024 ini dimenangkan oleh paslon nomor urut dua, Rata-rata di angka 55 persen
Pemilu di Kampung, selain banjir amplop juga tak setegang di media sosial. Orang kembali ke kehidupannya masing-masing. Meski berbeda dukungan, masih mau salaman saat ketemu di mushola, di jalan menuju kebun dan di warung warung,
“ jadi jika tidak ada cawe cawe jangan harap deh caleg itu menang” celetuk diki sambil memakai sandalnya untuk pulang dengan wajah yang sumringah
Sungguh Ngeri Negeriku , jika tidak ada uang, saudara, sahabat, dan BOS BESAR tidak akan bisa menduduki kursi apapun kecuali kursi mu sendiri.
Penulis : Wiwien Novandra, S.Kom.,M.TI./ Pemprus Radarwaykanan ( Radarlampung)












