oleh

Dari Kebun Kolektif hingga Maggot, Bhakti Negara Menjadi Wajah Baru Gerakan PKK

-Umum-31 Dilihat

PAKUAN RATU (RWK) — Pagi di Kampung Bhakti Negara, Kecamatan Pakuan Ratu, Way Kanan, Rabu (9/9), terasa berbeda. Sejumlah aktivitas masyarakat berjalan seperti biasa, tetapi hari itu ada tamu istimewa yang datang melihat dari dekat bagaimana warga mengembangkan potensi kampung melalui gerakan pemberdayaan keluarga.

Ketua TP-PKK Provinsi Lampung, Purnama Wulan Sari Mirza, bersama rombongan, datang dalam rangka pencanangan dan pembinaan Desa Kesejahteraan Keluarga untuk Lampung Maju Indonesia Emas atau Desa Tapis.

Bupati Way Kanan Ayu Asalasiyah, Sekda Way Kanan Machiavelli Herman Tarmizi, serta Plt Ketua TP-PKK Way Kanan Ciunah menyambut kedatangan rombongan.

Namun, kunjungan tersebut bukan sekadar seremoni pencanangan.

Rombongan diajak melihat langsung sejumlah aktivitas yang selama ini tumbuh di tengah masyarakat. Mulai dari pembagian sembako bagi penanganan stunting, bantuan alat bagi penyandang disabilitas, hingga bantuan usaha ekonomi produktif dari Pemerintah Provinsi Lampung.

Dari sana, perjalanan berlanjut ke Posyandu dan kebun kolektif PKK Kampung Bhakti Negara.

Di tempat inilah konsep pemberdayaan keluarga terlihat dalam bentuk yang sederhana: lahan yang dikelola bersama, tanaman yang bisa mendukung kebutuhan pangan keluarga, sekaligus berpotensi menjadi sumber tambahan pendapatan.

Kegiatan kemudian berlanjut pada penanaman pohon dan kunjungan ke tempat pelatihan PKK. Di sana, rombongan melihat aktivitas Bank Sampah dan budidaya maggot—dua kegiatan yang mungkin terlihat sederhana, tetapi memiliki nilai ekonomi sekaligus lingkungan.

Bank sampah bahkan disebut telah memberikan hasil bagi masyarakat dan membantu menambah pemasukan warga.

Pemilihan Kampung Bhakti Negara sebagai lokasi Desa Tapis bukan keputusan yang datang tiba-tiba.

Plt Ketua TP-PKK Way Kanan Ciunah mengatakan, kampung tersebut dipilih karena memiliki semangat masyarakat yang dinilai cukup kuat untuk mengembangkan berbagai program pemberdayaan.

Sebelum pencanangan, TP-PKK Way Kanan telah melakukan pembinaan di seluruh kecamatan.

Pembinaan itu tidak hanya menyentuh kegiatan kerajinan dan ekonomi keluarga. Anak-anak PAUD juga mendapat perhatian melalui pembinaan pendidikan, termasuk kerja sama dengan perpustakaan untuk memperluas wawasan mereka.

Way Kanan juga mendorong gerakan menanam kelor dan bunga telang serta pengembangan bank sampah sebagai bagian dari upaya menghubungkan pemberdayaan keluarga dengan ketahanan pangan, kesehatan, dan ekonomi.

Bagi Ciunah, seluruh program tersebut membutuhkan pendampingan yang konsisten.

Karena itu, TP-PKK Way Kanan berharap pembinaan dari tingkat provinsi dapat terus berlanjut.

Bupati Way Kanan Ayu Asalasiyah menilai pencanangan Desa Tapis merupakan bentuk nyata sinergi antara TP-PKK Provinsi Lampung dan TP-PKK Kabupaten Way Kanan dalam memperkuat pemberdayaan masyarakat.

Menurutnya, Kampung Bhakti Negara memiliki modal awal yang cukup kuat.

Program Desa Ramah Keluarga, pemanfaatan pekarangan melalui Hatinya PKK, kelompok UP2K PKK, serta kegiatan Posyandu menjadi sejumlah alasan kampung tersebut dipercaya menjadi lokasi pencanangan.

Ayu berharap momentum itu tidak berhenti pada acara pencanangan.

Justru setelah pencanangan, kader PKK di tingkat kampung dan kecamatan diharapkan semakin aktif menggali potensi yang dimiliki masyarakat.

Sebab, pembangunan keluarga tidak hanya berbicara soal kesehatan. Pendidikan, ketahanan pangan, lingkungan dan ekonomi keluarga juga menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

“Keberhasilan pembangunan bangsa dimulai dari keberhasilan membangun keluarga,” kata Ayu.

Pesan itu menjadi penting karena sebagian besar program yang ditampilkan di Bhakti Negara berangkat dari sesuatu yang dekat dengan kehidupan warga. Kebun kolektif berbicara tentang pangan. Posyandu berbicara tentang kesehatan. 

PAUD dan perpustakaan berbicara tentang masa depan anak. Bank sampah berbicara tentang lingkungan sekaligus ekonomi. Sementara UMKM menjadi gambaran bagaimana keterampilan keluarga dapat berkembang menjadi aktivitas produktif.

Ketua TP-PKK Provinsi Lampung Purnama Wulan Sari Mirza menilai apa yang dilihatnya di Bhakti Negara menunjukkan bahwa pemberdayaan tidak harus dimulai dari sesuatu yang besar.

Menurutnya, PKK memiliki ruang gerak yang luas karena bersentuhan langsung dengan keluarga, kesehatan, pendidikan, ekonomi hingga lingkungan.

Karena itu, ia mendorong agar setiap kampung tidak hanya menjadi objek pembinaan.

Potensi yang sudah ada harus dicari, dikembangkan, kemudian diarahkan agar mampu menjadi kekuatan ekonomi dan sosial masyarakat.

“Bukan hanya dibina saja, namun potensi yang ada harus benar-benar dibimbing,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya edukasi keluarga, termasuk penggunaan gadget bagi anak-anak. Menurutnya, perkembangan teknologi harus diimbangi dengan pendampingan agar memberikan manfaat bagi tumbuh kembang generasi muda.

Di sisi lain, kebun kolektif PKK Bhakti Negara mendapat perhatian khusus.

Purnama menilai kebun tersebut menjadi contoh nyata bagaimana program ketahanan pangan dapat berjalan dari tingkat keluarga dan kampung.

Jika dikelola semakin luas dan produktif, kebun bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga berpotensi memberikan dampak ekonomi.

Pada akhirnya, kata dia, penguatan ketahanan pangan juga dapat berjalan beriringan dengan upaya menekan angka stunting.

Pencanangan Desa Tapis di Bhakti Negara pada akhirnya bukan tentang sebuah label baru bagi kampung.

Lebih dari itu, ia menjadi upaya menghubungkan berbagai aktivitas masyarakat yang selama ini berjalan sendiri-sendiri agar memiliki arah yang lebih kuat.

Kebun, Posyandu, PAUD, UMKM, bank sampah hingga budidaya maggot ditempatkan dalam satu gagasan besar: keluarga yang sehat, mandiri dan berdaya.

Setelah meninjau berbagai kegiatan, Purnama Wulan Sari kemudian secara resmi mencanangkan Kampung Bhakti Negara sebagai Kampung Tapis.

Kegiatan dilanjutkan dengan mengunjungi sejumlah stan UMKM yang menampilkan produk dan aktivitas ekonomi masyarakat setempat.

Dari sebuah kampung di Pakuan Ratu, pesan yang dibawa cukup sederhana: membangun daerah tidak selalu harus dimulai dari proyek besar.

Kadang, ia bisa dimulai dari sebidang kebun yang dikelola bersama, sampah yang dipilah, maggot yang dibudidayakan, anak-anak yang dibacakan buku, atau keluarga yang semakin mampu berdiri di atas kakinya sendiri.

Dan di Bhakti Negara, semua itu sedang dicoba untuk dirangkai menjadi satu gerakan. (RWK/AT)