oleh

Seribu Pramuka Banjit Sujud Bersama di Tengah Kemarau, Ketuk Pintu Langit Memohon Hujan

-Umum-49 Dilihat


Banjit, RadarWayKanan, – Pemandangan tak biasa tersaji di Lapangan Merdeka Argomulyo, Kecamatan Banjit, Kabupaten Way Kanan, Lampung, Sabtu (19/9/2026).
Sekitar 1.000 anggota Pramuka dari berbagai tingkatan sekolah yang tengah mengikuti Perkemahan Jumat, Sabtu, Minggu (Perjusami) memperingati Hari Pramuka ke-65, seketika mengubah wajah lapangan perkemahan menjadi ruang doa.


Di tengah kondisi kemarau, mereka melaksanakan Salat Istisqa berjamaah, memohon kepada Allah SWT agar hujan segera diturunkan dan kemarau yang dirasakan masyarakat dapat segera berakhir.


Bukan suara riuh kegiatan perkemahan yang terdengar pagi itu. Ribuan peserta justru berdiri dalam barisan, kemudian bersujud bersama di atas tanah lapang yang kering.


Seragam Pramuka, sajadah, dan doa menjadi satu dalam suasana yang penuh kekhusyukan.


Salat Istisqa dipimpin Ustaz Taswin, S.H. sebagai imam, sementara Amit Nuriman, S.H., bertindak sebagai khatib.


Kegiatan tersebut turut dihadiri Kapolsek Banjit Iptu Mukhtiar, Ketua Kwarran Banjit Nurdin, S.Pd., Kepala KUA Banjit, para pembina dan pendamping Pramuka, serta peserta Perkemahan Bakti Kwarran Banjit.
Dari Lapangan Perkemahan Menjadi Ruang Introspeksi Shalat Istisqa bukan sekadar rangkaian tambahan dalam kegiatan Perjusami. Bagi Kwarran Banjit, momentum tersebut menjadi bagian dari pendidikan karakter.


Ketua Kwarran Banjit Nurdin, S.Pd., mengatakan kegiatan itu menjadi sarana untuk mengenalkan kepada generasi muda bahwa manusia memiliki keterbatasan ketika berhadapan dengan kondisi alam.
“Ini bukan sekadar agenda tahunan Pramuka. Ini adalah cara kami mengajarkan anak-anak untuk selalu berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa di saat menghadapi ujian alam,” ujar Nurdin.


Menurutnya, Pramuka tidak hanya dituntut memiliki ketangguhan fisik dan kemampuan bertahan di alam terbuka. Lebih dari itu, generasi muda juga perlu memiliki kepedulian terhadap lingkungan, empati sosial, kebersamaan, dan kekuatan spiritual.
Ketika Anak-anak Mengetuk Pintu Langit
Di tengah kemarau, kekeringan bukan hanya persoalan cuaca. Bagi masyarakat yang bergantung pada ketersediaan air, kondisi tersebut dapat bersentuhan langsung dengan kehidupan sehari-hari.


Karena itu, Salat Istisqa yang dilakukan ribuan anggota Pramuka menjadi simbol ikhtiar sekaligus doa bersama.
Satu per satu kepala tertunduk. Tangan terangkat dalam doa. Ribuan peserta yang biasanya memenuhi lapangan dengan aktivitas perkemahan kali ini justru menghadirkan keheningan.


Mereka datang sebagai peserta perkemahan, tetapi pagi itu berdiri sebagai anak-anak bangsa yang memohon keberkahan bagi bumi tempat mereka tinggal.


Pemandangan seribu Pramuka bersujud bersama di Lapangan Merdeka Argomulyo pun menjadi potret kuat bahwa pendidikan generasi muda tidak hanya berbicara mengenai keberanian, disiplin, dan kemandirian.


Ada nilai lain yang juga sedang ditanamkan: kesadaran bahwa manusia harus menjaga alam, peduli terhadap sesama, sekaligus menyadari keterbatasannya di hadapan Tuhan.


Di tengah tanah yang kering dan langit yang masih menahan hujan, doa-doa itu pun dipanjatkan.


Bukan sekadar berharap langit menurunkan air, tetapi berharap kemarau segera berlalu dan kehidupan masyarakat Banjit kembali mendapatkan keberkahan.( RWK/ HJR).