oleh

580 Murid Ikuti Festival Tunas Bahasa Ibu Way Kanan

-Umum-345 Dilihat

BLAMBANGAN UMPU (RWK) – Pelestarian bahasa Lampung menyasar generasi muda. Sebanyak 580 murid SD/MI dan SMP/MTs dari berbagai kecamatan di Kabupaten Way Kanan mengikuti Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) 2026 di Nuwa Adat Way Kanan, Rabu (14/10).

Festival ini menjadi ruang bagi para pelajar untuk mengenal, menuturkan, dan mengekspresikan bahasa daerah melalui beragam perlombaan, mulai dari mendongeng hingga komedi tunggal berbahasa Lampung.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Way Kanan Kiki Christianto, melalui Sekretaris Dinas Sunaryo, mengatakan festival tersebut bukan sekadar ajang kompetisi, tetapi juga ruang untuk kembali menghidupkan kebanggaan terhadap bahasa dan budaya Lampung.

“Jangan sampai kita terbuai dengan hal-hal baru hingga melupakan akar budaya sendiri,” pesannya.

Dari total peserta, sebanyak 396 murid SD/MI mengikuti perlombaan dendang syair, sastra lisan Lampung, mendongeng, dan membaca aksara lampung. Sementara itu, 184 murid SMP/MTs berkompetisi dalam lomba pidato bahasa Lampung dan komedi tunggal berbahasa Lampung.

Para pemenang selanjutnya akan mendapatkan pembinaan untuk dipersiapkan mengikuti kompetisi tingkat Provinsi Lampung.

Pemerintah Kabupaten Way Kanan berharap festival ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan, tetapi mampu menumbuhkan kebiasaan menggunakan bahasa Lampung dalam kehidupan sehari-hari.

Sebab, bahasa daerah tidak cukup hanya diperlombakan di atas panggung. Keberlangsungannya ditentukan oleh seberapa sering bahasa itu dituturkan, dipahami, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Mewakili Bupati Way Kanan Ayu Asalasiyah, Sekretaris Daerah Machiavelli Herman Tarmizi membuka langsung kegiatan tersebut.

Dalam sambutannya, Machiavelli menegaskan, bahasa ibu bukan sekadar alat komunikasi, melainkan bagian dari identitas dan warisan budaya yang harus dijaga agar tetap hidup di tengah generasi muda.

“Di mana bahasa daerah terus bergema, di situlah martabat Bumi Ramik Ragom akan tetap tegak berdiri,” ujarnya.

Ia menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya FTBI sebagai bentuk komitmen bersama dalam merawat warisan leluhur. Menurutnya, pelestarian bahasa daerah membutuhkan keterlibatan pemerintah, guru, orang tua, dan generasi muda. (RWK/AT)