Petani Singkong minta Pemerintah Hb Tindak tegas Pabrik singkong yang tidak patuhi Surat Edaran Gubernur

oleh

Radar Waykanan.Com
Pakuan Ratu, – Sejumlah Petani Singkong Keluhkan Ketidakpatuhan Pabrik Singkong Terhadap Surat Edaran Gubernur dan Bupati Way kanan, Harga Rendah dan Potongan Tak Jelas.

Para petani singkong wilayah Pakuan Ratu, Negara Batin dan Negeri Besar kembali menyuarakan keluhan mereka terkait ketidakpatuhan sejumlah pabrik pengolahan singkong terhadap Surat Edaran Gubernur Lampung Serta Surat Peringatan Bupati Way Kanan,mengenai harga dan potongan singkong. Selain harga yang dinilai jauh di bawah standar Dibeberapa Pabrik Yang ada di wilayah Pakuan Ratu petani juga mengeluhkan potongan yang tidak jelas dan sistem buka tutup pabrik yang mempersulit penjualan hasil panen.

Menurut pengakuan para petani, meskipun Gubernur Lampung telah mengeluarkan surat edaran yang mengatur harga minimal pembelian singkong dan ketentuan potongan, namun kenyataannya di lapangan masih ada pabrik yang tidak mengindahkan aturan tersebut.

“Nasir seorang petani singkong dari kampung Pakuan Ratu, mengungkapkan, “Harga singkong di beberapa pabrik masih sangat rendah, jauh dari harga yang seharusnya sesuai dengan surat edaran Gubernur. Kami merasa sangat dirugikan.”

Selain masalah harga, para petani juga mengeluhkan potongan (refaksi) yang dinilai terlalu tinggi dan tidak transparan. Mereka mengatakan bahwa potongan seringkali dilakukan tanpa ada ketentuan yang jelas dan terkesan sepihak.

Hery menambahkan, “Potongan timbangan bisa mencapai 40 persen, bahkan lebih. Alasan yang diberikan juga tidak jelas, kadang-kadang kadar air tinggi, kadang-kadang singkong kotor. Kami tidak tahu bagaimana cara menghitung potongan yang benar.”terangnya

Tak hanya itu, para petani juga mengeluhkan sistem buka tutup pabrik yang dinilai mempersulit mereka dalam menjual hasil panen. Pabrik seringkali tiba-tiba menutup penerimaan singkong dengan alasan yang tidak jelas, sehingga petani terpaksa menunda panen atau mencari pembeli lain dengan harga yang lebih murah.

“Sistem buka tutup pabrik ini sangat merugikan kami. Kami sudah jauh-jauh membawa singkong ke pabrik, tapi ternyata pabriknya tutup. Kami harus mengeluarkan biaya transportasi lagi untuk mencari pembeli lain,” keluh.

Para petani berharap agar pemerintah provinsi dan kabupaten dapat segera turun tangan untuk menindak tegas pabrik-pabrik yang tidak patuh terhadap surat edaran Gubernur Lampung. Mereka juga meminta agar pemerintah dapat memberikan solusi alternatif bagi para petani agar tidak terus-menerus dirugikan oleh praktik-praktik yang tidak adil.

Dihubungi melalui sambungan Whatsapp manager CV.Gajah Mada Inter Nusa, Ko Pimping membenarkan bahwa pabriknya tutup terhitung sejak Selasa (9/9). Hal itu disebabkan oleh ketidakmampuan pabrik dalam memenuhi tuntutan masyarakat petani singkong yang meminta potongan 30% tanpa mengukur kadar pati.Menurut ko Pimping hal ini menjadi delama bagi Pabrik mengingat Harga jual Tapioka dipasaran Lokal Pada selasa tanggal 9 September 2025 hanya diangka Rp.4.600 per kilogram ditambah susahnya mencari pembeli di pasaran.Bila keadaan terus seperti ini tanpa ada solusi yang tepat dari pemerintah terhadap harga jual tapioka lokal,tidak menutup kemungkinan akan banyak pabrik yang tutup.”terangnya

Lebih lanjut Dirinya berharap dalam hal ini pemerintah juga memberikan solusi untuk pabrik -pabrik lokal “kami hanya dituntut untuk membeli singkong dengan harga dan potongan sesuai ketentuan sementara solusi bagi kami pabrik terhadap harga jual tapioka tidak ada.” Imbuhnya

Masih kata ko Pimping dirinya berharap pemerintah bisa melihat secara adil dalam membuat kebijakan, disisi lain petani harus tetap untung kami pihak pabrikpun diperhatikan oleh pemerintah terhadap harga jual tapioka maka dipastikan harga beli singkong di petani akan naik. “Posisi sekarang saya juga bingung karyawan minta pabrik untuk buka karena mereka tidak ada pekerjaan disisi lain ketidak mampuan kami dalam hal membeli singkong dengan ketentuan seperti yang sudah ditetapkan.Tutupnya

Hal Senada Juga diungkapkan oleh Budi Pranata Jati Manager PT. Agung Mulia Bunga Tapioka.
Dirinya berharap ada penyetabilan harga tapioka dipasar Lokal, Supaya antara pabrik dan petani singkong bisa sama-sama Jalan mengingat setuaisi yang sulit seperti sekarang ini. RWK /JONI