Pernyataan Senior Supervisor Communication dan Relation Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagsel, Haris Yanuanza tersebut mendapatkan tanggapan beragam dari masyarakat, yang beranggapan kalau pertamina hanya ingin lepas tangan dan tidak mau tahu kondisi masyarakat sama halnya ketika ribut ribut mengenai BBM yang banyak dijual di luar SPBU dan bahkan terkadang di SPBU dinyatakan habis tetapi ada pengecer disamping SPBU yang menjual BBM berbagai jenis.
“Gas ini hampir sama dengan BBM bedanya Kalau Gas habis dipangkalan dan dipengecer juga habis sedangkan BBM biasanya di SPBU habis tapi pengecer samping SBPU stknya banyak dari mana datangnya BBM itu, Ujar Miswanto warga Kampung Sangkaran Bhakti .
Masih menurut Miswanto, kalau Pertamina meminta warga pengguna Gas LPG untuk membeli gas di Pangkalan sama saja dengan melarang warga mendapatkan rezki yang lebih, karena para pengecer itu juga cari rezki dan yang menentukan harga adalah pangkalan gas.
“hasil investigasi kami, warga mengeluhkan tingginya harga Gas LPG, semestinya pihak pertamina mencari akar persoalannya mengapa gas tersebut bisa mahal padahal selama ini tidak ada gejolak, bukannya meminta warga beli dipangkalan, coba bayangkan di tempat saya untuk mencari gas LPG 3 Kg, jaraknya mencapai 40 Km, dari Kampung ke Ibukota Kecamatan kalau bolak balik sudah berapa biaya yang kami keluarkan, jadi dikampung mesti ada pengecer, dan pengecer itu naikkan harga gas karena gas tidak ada, yang artinya pendistrinusian gas itu yang macet nah kenapa macet itu yang mesti dipikrikan pertamina bukan menyalahkan pengecer dan meminta warga beli di Pangkalan,” tegas Miswanto.






