Radar Waykanan.Com
Pakuon Ratu, – Pabrik tapioka yang beroperasi di Kecamatan Wilayah kecantikan Pakuon Ratu, Kabupaten Way Kanan, Lampung, tengah menghadapi badai tantangan yang cukup berat. Selain menghadapi tekanan harga produk yang terus melorot di pasar nasional bahkan internasional, jumlah pembeli yang datang juga semakin terbatas, membuat kelangsungan usaha menjadi terancam.
Hal itu disampaikan langsung oleh Budi Paranata Jati manager PT. Agung Mulia Bunga Tapioka salah satu pengelola pabrik tersebut, dalam wawancara khusus dengan Radar Way Kanan, Selasa (13/01/2026). Menurutnya, meskipun kondisi bisnis semakin sulit, pihak pabrik tetap konsisten memenuhi peraturan yang telah ditetapkan oleh Gubernur Lampung terkait harga pembelian singkong dari para petani lokal.
“Kita tetap patuhi aturan, membeli singkong dengan harga Rp1.350 per kilogram. Meskipun ada refaksi atau potongan sebesar 20 persen yang diterapkan berdasarkan kualitas singkong yang diterima, namun angka tersebut sudah menjadi kesepakatan untuk melindungi pendapatan petani di daerah kita,” jelas Budi.
Refaksi sebesar 20 persen tersebut, kata Budi, umumnya diberikan pada singkong yang memiliki kadar air terlalu tinggi yang dapat mempengaruhi kualitas tapioka hasil olahan. Namun, meskipun ada potongan tersebut, harga Rp1.350 per kilogram tetap menjadi pijakan yang tidak pernah dilanggar oleh pabriknya, meskipun biaya produksi terus meningkat dari waktu ke waktu.
“Kita paham betul bahwa petani juga punya beban sendiri mulai dari biaya bibit, pupuk, hingga perawatan lahan. Karena itu, meskipun kita sendiri kesusahan, kita tidak mau mentransfer beban itu ke pundak mereka,” tambahnya.
Namun, kondisi pasar yang tidak menguntungkan akhir-akhir ini membuat pabrik harus bekerja ekstra keras. Harga tapioka di pasaran kini tercatat berada di level yang jauh di bawah target keuntungan, bahkan terkadang hanya cukup untuk menutupi sebagian kecil biaya operasional. Selain itu, jumlah pembeli yang datang juga semakin berkurang, baik dari kalangan pedagang lokal maupun pembeli dari luar daerah.
Menurut Budi, beberapa faktor menjadi penyebab kondisi ini, antara lain persaingan dengan produk impor yang harga lebih murah, penurunan permintaan dari industri pengguna tapioka seperti makanan dan minuman, serta tantangan dalam distribusi yang membuat produk sulit menjangkau pasar potensial di daerah lain.
“Kita sudah berusaha mencari pasar baru, bahkan mengajak beberapa mitra bisnis dari luar Provinsi Lampung. Namun, respons yang didapatkan masih belum memuaskan karena mereka juga sedang menghadapi tekanan yang sama di daerah masing-masing,” ujar Budi
Pihak pabrik juga mengaku telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi masalah ini, seperti meningkatkan kualitas produk tapioka agar lebih kompetitif, melakukan efisiensi biaya di berbagai lini produksi.
“Kita berharap pemerintah bisa memberikan dukungan lebih lanjut, baik dalam bentuk bantuan akses pasar maupun kebijakan yang dapat melindungi produk dalam negeri dari persaingan yang tidak sehat. Selain itu, kita juga berharap bisa bekerja sama dengan lebih erat dengan para petani untuk meningkatkan kualitas singkong sekaligus mengoptimalkan hasil panen mereka,” pungkas Budi. RWK/JONI












