oleh

Mimi Tjong

-disway-10562 Dilihat

Saya pun ingat istri. Ingin membawakannya oleh-oleh bihun bebek. Nicky pun memesan dua porsi untuk dibungkus. Tidak dilayani. Aneh. Resto lain mimpi dapat pembeli. Bihun bebek Medan menolak pesanan take away.

Tidak aneh. Ia ingin menjaga rasa. Tidak ingin membuat konsumen kecewa. Bisa saja sampai di Surabaya rasanya berubah. Tekstur bihunnya sudah berbeda. Beda jam beda rasa. Apalagi sampai dibawa naik pesawat tiga jam. Bisa juga daging mentoknya sudah jadi rasa daging bebek. Pun kerenyahan remah bawang putih gorengnya pasti sudah berubah.

Semua harus just right. Rasa adalah perpaduan banyak hal yang harus tepat perpaduannya.

Sambil menunggu pesawat, saya ke Rumah Tjong Afie. Sebetulnya ini juga trik saja. Untuk menunggu resto Pondok Gurih buka: ingin makan kepala ikan campur gule daun singkong. Njoo juga yang memaksanya.

Saya pernah ke rumah Tjong Afie. Lama sekali lalu. Kali ini saya punya waktu dua jam. Saya dengar masih ada satu cucu Tjong Afie yang tinggal di rumah itu. Ingin sekali bertemu.

Tjong Afie lahir 1860. Di Meixian. Setelah saya lihat huruf Mandarinnya baru tahu bahwa Tjong itu bahasa suku Hakka untuk Zhang (張). Zhang Ahui.

Saya kurang cerdas: begitu melihat kampung kelahirannya, Mexian, harusnya langsung tahu Tjong Afie orang suku Hakka. Saya dua kali ke Mexian. Itulah kabupaten di Provinsi Guangdong yang hampir 100 persen dihuni suku Hakka. Letaknya di sudut timur laut Guangdong. Berbatasan dengan Fujian.

Lee Kuan Yew orang Hakka. Taksin orang Hakka. Aquino Filipina orang Hakka. Murdaya Poo orang Hakka.

Di rumah Tjong Afie saya berhasil bertemu sang cucu: Mimi Tjong. Usianya 74 tahun. Janda. Masih terlihat sehat. Langsing. Wajahnya segar. ”Saya baru jatuh terguling-guling di tangga,” katanyi. ”Mungkin 12 anak tangga,” tambahnyi.

Baca Juga