Harga Minyak Naik, Harga Sawit kok Turun

Gunung Labuhan (RWK),- Ditengah harga minyak goreng yang sempat meroket, tidak membuat petani sawit tersenyum lantaran harga sawit di petani masih menyentuh angka Rp.2.700 per-kilogram. Ditambah lagi buah sawit yang berkurang akibat mengalami trek sehingga membuat petani kelimpungan.

“Musim penghujan saat ini, sawit mengalami trek (berkurangnya buah), kalau tadinya hasil 2 Ton, terkadang cuma dapet 3 Kwintal, ditambah harga menurut kami yang tidak seimbang dengan harga minyak goreng yang sempat melonjak, semestinya dimusim trek ini harga lebih mahal supaya seimbang, karena sawit inikan bahan pokok pembuatan minyak goreng,” kata Lani (45) salah seorang petani sawit Wilayah Gunung Labuhan.

Baca Juga  Kakam Juku Batu Bantu Warganya Yang Terkena Kanker Tulang

“Sebenarnya dengan kondisi pohon sawit trek seperti ini, kami berharap kepada pihak yang berkompeten untuk berperan penting menyampaikan keluhan para petani sawit, bukan justru membuat harga minyak goreng yang meroket naik, namun harga sawit tidak meroket, ini membuat kami terdesak karena semua umat membutuhkan minyak goreng,” sambung Lani.

Baca Juga  Tingkatkan Pelayanan, Camat Negeri Besar Adakan Rakor Bulanan

Pernyataan Lani tersebut dibenarkan Debio, petani sawit asal Negeri Agung, menurutnya, jika hasil sawit menurun seperti ini harga sawit tidak mengalami kenaikan, terkadang justru mengalami penurunan, akan tetapi jika buah sawit membludak dengan hasil yang melimpah, justru sangat sensitif yang dipastikan turun.

“Kami cuma ingin harga sawit ini benar-benar di stabilkan, misalnya hasil petani sedikit cobalah dibantu dengan harga yang tinggi, jika buah sawit banjir yah… disesuaikan saja, asalkan tidak begitu tragis harganya. Seperti dulu, harga sawit pernah mencapai harga 500 rupiah, kalau seperti ini habis karena upah kami mau makan apalagi,” pungkasnya.

Baca Juga  Kementerian Agama Rilis Kartu Nikah 1 Suami 4 Istri, Cek Faktanya

RWK/Oksi.