CORONA BELUM PERGI HARGA KARET SUDAH TURUN LAGI

Blambangan Umpu. RWK – Setelah sempat terbuai dengan kenaikan harga karet, dan buah kelapa sawit, dua tiga hari terahir,petani karet Kabupaten Way Kanan, kembali mengeluhkan harganya yang terjun bebas.

Tidak tanggung-tanggung, untuk karet mingguan yang sebelumnya mencapai Rp.10.000 kilogram , namun pekan ini turun, drastis hingga mencapai Rp. 8.500 dan bahkan Rp. 8.000/ kg, hal mana kondisi ini menyebabkan petani karet di Way kanan kembali menjerit karena tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup mereka ditengah terpaan pandemi corona yang juga belum usai.

Baca Juga  Sungai Yang Melintasi Kampung Pakuan Sakti Meluap

“Saya tidak menyangka mas, harga karet bukan hanya turun lagi, bhakn terjun bebas, mirisnya harga pupuk dan Herbisida naik tinggi alias ganti harga, saya tidak athu apakah hal ini diketahui oleh pemerintah atau tidak , jika seperti ini secara terus –menerus, bisa bisa anak anak kami berhenti sekolah, dan kami tidak tahu mau makan apa kalau tidak ada bantuan dari pemerintah,” ujar Siok salah satu petani karet di Banjit .

Baca Juga  Miris! Hampir 60% Lahan Petanian Rusak

Pernyataan Siok tersebut dibenarkan oleh Sudir Penyadap Karet di Blambangan Umpu Way Kanan, yang terpaksa menghentikan pekerjaannya menyadap karet karena merasa kebutuhannya sehari hari tidak dapat terpenuhi dari hasil menyadap karet, akibat terus turunnya harga karet.

“Harga karet murah, akan tetapi harga sembako, pupuk dan herbisida naik tinggi , entah bagaimana nasib kami dimasa yang akan datang kalau hasil hasil perkebunan petani terus sementara harga pupuk dan kebutuhan petani lainnya haganya naik, sementara Way kanan ini 90 % pendudukanya berpropesi sebagai petani,” ujar Sudir.

Baca Juga  Tim Gugus Tugas Covid-19 Kampung Negeri Besar, Laksanakan Peyemprotan Disinfektan

Terpisah Towi salah satu penjual kebutuhan pertanian di Way kanan menerangkan bahwa naiknya harga Herbisida atau lebih tepatnya ganti harganya Herbisida yang ia jual didasarkan dari harga yang diberi oleh supalyer  dengan alasan bahan bakunya juga naik.

“Jadi harga bahan baku pembuatan herbisida sekarang mahal dan informasinya dibeli dari luar negeri, sehingga kami terpaksa menaikkan harganya saat dijual ke petani,” ujar Towi. RWKI/OKSI