Pengerajin Anyaman Terus Berkarya Di Masa Pandemi

Gunung Labuhan(RWK),– Pengrajin anyaman bambu di Kampung Bengkulu Jaya, Kecamatan Gunung Labuhan Kabupaten Way Kanan masih bertahan produksi di masa pandemi Covid-19. Seolah enggan tergerus di tengah kembang maraknya perkakas serta perabotan plastik yang ikut berkembang seiringnya zaman.

Meskipun sebagai pekerjaan sambilan, namun masih saja ditekuni secara turun-temurun sehingga menjadi ikon industri rumahan berbasis kearifan lokal.

Kerajinan anyaman bambu seperti membuat bakul, tampah, dan anting (wadah tempat makanan) sudah digeluti Samsuriati (65) sejak ia remaja hingga sekarang.

“Tetap membuat karena ada-ada saja yang memesanan, kalau ditanya kapan saya menggeluti kerajinan ini, memang sejak remaja sudah belajar membuat bakul bambu ini kebetulan orang tua saya bisa membuat sehingga saya dengan mudah belajar,” kata Samsuriati (65), salah seorang perajin anyaman bambu Kampung Bengkulu Jaya.

Baca Juga  Apel Pagi Tingkatkan Kinerja Perangkat Kampung Campang Lapan

Dalam sehari, kata Samsuriati dirinya mampu membuat dua buah bakul ukuran kecil untuk wadah kopi (Kecandang red).

“Dalam sehari dua buah bakul kecil bisa saya buat, Ini pun sesuai pesanan karena di pasar pun sudah jarang ditemukan,” Kata Dia.

Dirinya mengaku, selama pandemi Covid-19, omzet penjualan kerajinan yang dibuat menurun yang biasanya setiap bulan sampai 10 bakul terjual dan ini tidak sampai lagi.

“Pesanan menurun dibandingkan dengan sebelum Covid-19. Tapi saya tetap membuat untuk stok, biasanya ada pedagang yang butuh dan beli dalam jumlah banyak, apalagi kalau sudah mendekati musim kopi dan musim lada dan momen ini yang saya tunggu karena banyak yang memesan,” Ujarnya.

Baca Juga  Plt Camat Negeri Agung siap Antisipasi Penyebaran Covid-19 Jelang Pilkakam

Harganya relatif murah dan terjangkau. Untuk bakul Kopi berukuran kecil yaitu Rp. 25000,00 hingga Rp. 30.000,00 per buah sesuai dengan besar kecilnya pesanan dan tingkat kerumitannya.

“Murah, dari dahulu juga bertahan harganya. Bakul ini sebetulnya multi fungsi bisa dijadikan wadah penampung biji kopi, cangkang lada, memanen jagung dan lain sebagainya,” terangnya Samsuriati.

Untuk bahan dasarnya yakni bambu, dan bambunya pun tidak sembarang bambu akan tetapi bambu khusus yang memang biasa digunakan untuk bahan anyaman (Bambu tali red) dan untuk bahan dasar tersebut ia tidak terlalu kesulitan mencarinya karena di kebunnya memang ia tanam.

“Alhamdulilah untuk pembiayaan dalam membuat anyaman ini tidak terlalu mengeluarkan modal cukup dengan keterampilan dan tidak malas,” Tutupnya. RWK/Oksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

TP-PKK Gunung Pekuon Gelar Senam Sehat Bersama

Fri Mar 19 , 2021
Gunung […]