Porang, Solusi Baru Petani Tingkatkan Perekonomian

  • Whatsapp

Gunung Labuhan (RWK)- DI tengah pandemi Covid-19 yang berdampak pada perekonomian, banyak masyarakat yang mencari solusi. Hal itu pula yang dilakukan warga Bengkulu Jaya kecamatan Gunung Labuhan kabupaten Way Kanan Mereka mulai beramai-ramai menanam porang (Amorphophalus muelleri).

Di Gunung Labuhan khususnya Bengkulu Jaya dalam 4 bulan terakhir ada beberapa petani yang mulai bercocok tanam porang.
Kini ada sekitar puluh jutaan batang porang yang ditanam tersebar Gunung Labuhan.
Tak banyak memang, tapi sangat menjanjikan.

Maklum tanaman itu kini paling diburu dan sangat dicari. Terutama untuk keperluan industri yang diekspor ke Jepang dan Cina. Hal ini memunculkan potensi ekonomi yang menjanjikan. Bahkan tanaman porang telah melahirkan banyak orang kaya baru di Tanah Air.

Salah seorang petani porang kampung Bengkulu Jaya Ro’is (33) yang merintis dan memulai bercocok tanam porang pada empat bulan lalu. Setelah kandas bertani cabai di kampungnya, kini dirinya bertani porang untuk peluang usaha baru.

Ro’is tertarik dengan tanaman porang setelah mendengar banyak cerita dan telah membuktikannya sendiri bahkan pernah menjalani berbisnis porang.

Ia tak menyangka kalau tanaman liar yang marak dibudidayakan tersebut banyak ditemukan di areal perkebunan dan tepi sungai bahkan hutan-hutan, banyak ditemukan tanaman yang tumbuh subur dan tak pernah diambil. Mungkin karena tidak banyak yang tahu. “Tanaman porang memang mirip suweg atau iles. Bedanya, tanaman porang ada kataknya (ada buah tunggal di ketiak daun) atau buah bulbil. Kalau umbinya sih mirip,”ujarnya, Senin(26/10).

Baca Juga  Siger Berbagi di Kecamatan Umpu Semenguk

Tak hanya berburu umbinya, tetapi juga bunga dan buah kataknya. Kemudian ia jual sebagai bibit atau benih, harganya pun cukup menjanjikan.
Biji bunga yang siap bibit harganya sampai Rp 1,2 juta per kg, buah katak Rp 100.000 per kg, umbi basah untuk bibit Rp 25.000 per kg (rata-rata 5-6 umbi per kg).

Lebih lanjut, Ro’is mengatakan kini sudah banyak warga yang paham, Warga yang berburu porang itu juga membawa pulang untuk ditanam di kebun sendiri.
“Kebanyakan memang dijual untuk benih atau bibit, kini banyak pembeli dari berbagai daerah beli benih porang dari sini. Bahkan Saya pernah jual 1.000 benih dengan nilai 3/polibet,”tambahnya.

Di pekarangan 6 x 6 meter dengan jarak tanam 30 cm, tanaman porang dalam setahun bisa menghasilkan 600 kg umbi porang. Dengan harga porang Rp 5.000 per kg basah, dalam setahun bisa menghasilkan sekitar Rp 3 juta.
“Tak perlu kemana-mana tak perlu susah-susah, halaman indah porang tumbuh seperti bunga. Uang pun dapat. Itu hanya di pekarangan. Coba kalau dikelola serius di kebun yang luasnya sampai satu hektare yang ditanami sekitar 40.000 tanam porang. Sekali panen (2 tahun) bisa menghasilkan Rp 400 juta dengan biaya produksi sekitar Rp 150 juta mencakup untuk benih, tenaga kerja, dan pupuk kompos. Jadi, memang menjanjikan,”ungkapnya.

Baca Juga  KPU Lakukan Aproval/Persetujuan Cetak Surat Suara Pilkada

Porang telah menjelma menjadi tanaman bernilai ekonomis tinggi yang banyak manfaat.

Terpisah, menurut yang juga petani porang, setidaknya ada 25 produk olahan porang.
Berupa tepung, chip (serpihan umbi porang yang sudah dikeringkan), pati, serat, pasta, dibuat aneka kue, mie, snack, kalogen, antikolesterol, surfaktan, bahan baku farmasi, kosmetik, pembalut, kompos, pakan, pasta lem pesawat dan banyak lagi bentuk olahan lainnya.
“Semuanya berupa bahan baku industry maupu usaha aneka pangan. Jadi umbi porang memang tidak bisa dijual ke pasar biasa, ada pasar khusus industri,”katanya.

Ditengah pandemic Covid-19 yang membuat ekonomi terguncang dan menganjurkan setiap orang tinggal di rumah.
Menurut Edwin, bercocok tanam porang bisa sebagai salah satu solusi untuk menambah penghasilan masyarakat karena ekonomi terguncang.
“Bercocok tanam porang tidak sulit. Tidak sesulit bercocok tanam cabai maupun padi. Tanamannya tidak rewel, tidak butuh biaya tinggi. Tak perlu kebun, di pekarangan juga bisa. Di polibag maupun di karung bekas juga bisa. Hasilnya cukup menjanjikan.”pukasnya. RWK/Kadarsyah

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *